Perencanaan Produksi Kayu HTI

Takt Time dan Cycle Time Pada Perenanaan Produksi Kayu

Dalam Perencanaan Produksi Kayu HTI, Takt Time dan Cycle Time dapat sangat membantu untuk melihat perimbangan antara kemampuan produksi dengan permintaan ‘customer’, apakah kemampuan produksi sudah atau belum dapat memenuhi permintaan ‘customer’. Takt Time dan Cycle Time, keduanya merupakan istilah untuk menyatakan selang waktu 1 putaran yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu satuan hasil produksi. Akan tetapi Takt time ditinjau dari sudut permintaan ‘customer’ sedangkan Cycle Time ditinjau dari sudut kemampuan produksi.
Sebelum membicarakan Takt Time dan Cycle lebih jauh lagi dalam kaitan kemanfaatannya dalam Perencanaan Produksi Kayu HTI, kami merasa perlu untuk terlebih dahulu memaparkan tentang Sistim Produksi Kayu pada Hutan Tanaman Industri (HTI). Pada umumnya, Sistim Produksi Kayu HTI terdiri dari 3 komponen utama produksi:
  • Sistim penebangan pohon (Felling)
  • Sistim ‘prebunching’ yang mengumpulkan kayu hasil penebangan pohon ke dalam tumpukan-tumpukan kecil di ‘infield’
  • Sistim penarikan kayu ke TPN (extraction)
Cycle Time adalah waktu yang digunakan oleh ketiga komponen produksi kayu di atas untuk menghasilkan 1 ton kayu.
Walaupun kemampuan untuk menghasilkan kayu, ditentukan oleh kerja dari ketiga komponen produksi tersebut, tetapi, untuk maksud Perencanaan Produksi Kayu HTI, kita patut memusatkan perhatian pada ketersedian alat-alat berat yang digunakan untuk menarik kayu ke TPN berdasarkan pertimbangan tingkat kesulitan penambahan alat dan juga bahwa proses penarikan kayu merupakan bagian akhir dari proses produksi kayu. Cycle Time untuk dua komponen poduksi lainnya seharusnya disesuaikan dengan Cycle Time dari sistim penarikan kayu ke TPN untuk menjaga kelancaran dan kesinambungan aliran produksi kayu. Jika tidak maka akan terjadi ‘bottle neck’ yang menyebabkan adanya antrian kayu pada salah satu dari ketiga proses tersebut.
Sebagai contoh, jika dalam satu hari alat penarik kayu ke TPN rata-rata bekerja selama 10 jam, setelah dikurangi waktu untuk istirahat, waktu untuk ‘service’ alat (maintenance, pengisian BBM, dan lain-lain, waktu untuk briefing, jeda waktu saat pergantian shift, dan seterusnya. Dan dalam satu hari satu alat dapat menghasilkan kayu , misalnya, 80 ton. Maka Cycle Time untuk menarik kayu ke TPN adalah 10/80 = 0.125 jam/ton untuk setiap pnggunaan satu alat. Dengan menambah satu alat lagi utuk menjadikannya 2 alat, Cycle Time akan diperkecil lagi menjadi 0.125/2 = 0.0625 jam/ton. Perencanaan Produksi Kayu untuk komponen produksi lainnya, ‘Felling’ dan ‘Prebunching’, harus memiliki Cycle Time maksimal sama dengan Cycle Time dari proses penarikan kayu ke TPN. Ini menyangkut perencanaan penyedian jumlah alat (beserta operator) yang akan digunakan pada kedua komponen produksi tersebut. Jika dengan alat yang tersedia saat ini, memiliki cycle time lebih besar dari cycle time yang dimiliki oleh proses penarikan kayu ke TPN maka perlu dipertimbangkan penambahan alat. Sebaliknya jika memiliki Cycle Time yang lebih kecil dari Cycle Time yang dimiliki oleh proses penarikan kayu ke TPN maka perlu dipertimbangan untuk mengurangi jumlah alat pada proses ini atau menambah alat pada proses penarikan kayu di TPN. akan tetapi jika proses penarikan kayu ke TPN sudah dijadikan standar untuk Cycle Time untuk keseluruhan Sistim Produksi Kayu, maka pilihan yang pertama mutlak dilakukan. Standarisasi Cycle Time pada salah satu dari ketiga komponen produksi diatas diperlukan untuk memudahkan melakukan perbandingan dengan Takt Time.
Dilihat dari sudut jumlah permintaan customer, yang dalam Perencanaan Produksi Kayu HTI dibahasakan dengan istilah ‘target produksi’, Takt Time merupakan waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan setiap 1 ton kayu dari ‘customer’. Satuan ton digunakan untuk menyesuaikan satuan yang digunakan oleh ‘customer’ untuk menentukan jumlah kayu pada truk yang diterimanya melalui jembatan timbang (weight bridge). Oleh karena itu, satuan ton juga digunakan dalam Perencanaan Produksi Kayu HTI, walaupun dalam kenyataannya kita hanya dapat mengukur jumlah kayu yang diproduksi dalam satuan M3. Dalam hal ini diperlukan parameter untuk konversi M3 ke ton, yaitu rata-rata densitas kayu.
Jika customer memesan 1500 ton kayu per bulan atau 1500/30 = 50 ton kayu per hari maka Takt Time, dengan waktu kerja alat 10 jam per hari, adalah 10/50 = 0.2 jam/ton. Maka, sekarang kita dapat membandingkan perimbangan antara Takt Time dengan Cycle Time untuk melihat apakah produksi kayu mampu memenuhi kebutuhan ‘customer’ Berdasarkan apa yang dicontohkan di atas, Cycle Time untuk produksi kayu adalah 0.125 jam/ton dengan hanya menggunakan satu alat untuk menarik kayu ke TPN. Nilai Cycle Time yang lebih kecil dari Takt Time ini menunjukkan bahwa kemapuan produksi kayu dengan hanya menggunakan satu alat penarik kayu ke TPN sudah cukup untuk memenuhi permintaan ‘Customer’. Beda jika seandainya Cycle Time lebih besar dari Takt Time, maka menambah alat untuk memenuhi laju produksi yang diinginkan ‘customer’ perlu diperhitungkan. Jika Cycle Time sama dengan Takt Time, kemampuan produksi dapat memenuhi permintaan ‘customer’ hanya jika tidak terjadi hal-hal yang menyebabkan laju produksi kayu menjadi terhambat, seperti kerusakan alat, insiden yang menyebabkan fatality, adanya hal-hal yang mendesak (forced major), dan lain sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *