Perencanaan Pemanenan Hutan

Perencanaan Pemanenan Hutan dan Perencanaan Produksi Kayu

Bahan baku utama pada proses pengelolaan Hutan Tanaman Industri adalah tegakan pohon yang siap panen. Karena itu, disamping permintaan dari ‘customer’, yang kemudian diterjemahkan dalam target produksi, jumlah ketersediaan tegakan yang akan dipanen harus pula diperhitungkan apakah dapat atau tidak mencukupi permintaan dari ‘customer. Tinjauan Ketersediaan tegakan yang akan dipanen mengarah ke Perencanaan Pemanenan Hutan. Ini menyangkut alokasi dan masalah perizinan areal dari Hutan Tanaman Industri yang akan dipanen. Sedangkan tinjauan cara untuk memproduksi kayu mengarah ke Perencanaan Produksi Kayu. Perencanaan sitim pemanenan kayu yang akan diterapkan dan jumlah alat yang dibutuhkan pada setiap komponen produksi masuk ke dalam perencanaan ini.

Perencanaan Produksi Kayu dan Alur Produksi.

Alur Produksi Kayu

Gambaran Umum Alur Produksi Kayu pada Pemanenan Hutan Tanaman Industri.

Alur Produksi Kayu pada sistim Pemanenan Hutan yang diterapkan seharusnya dipahami secara menyeluruh sehingga dapat digunakan untuk mendukung Perencanaan Produksi Kayu pada Hutan Tanaman Industri. oleh karena perencanaan harus berlanjut pada penentuan jumlah alat (beserta operator) yang harus disiapkan pada setiap komponen produksi kayu untuk memenuhi target produksi. Untuk mendapatkan gambaran Alur Produksi Kayu secara rinci , silahkan melihat pada artikel Pemanenan Kayu.

Perencanaan Produksi Kayu juga merupakan bagian dari Perencanaan Pemanenan Hutan secara menyeluruh dimana perencanaan dan penandaan batas-batas areal dari Hutan Tanaman Industri mencakupi luasan dengan sumber tegakan yang cukup untuk memenuhi target produksi.

Perencanaan Pemanenan Hutan

Perencanaan Pemanenan Hutan pada Hutan Tanaman Industri didasarkan pada faktor-faktor, antara lain:

  • Permintaaan dari ‘customer’ yang diwujudkan dalam target produksi.
  • Ketersediaan Luas areal tegakan siap panen
  • Stock kayu tersedia pada TPn dan Infield di awal tahun
  • Kemampuan alat-alat yang terlibat pada Pemanenan Hutan.
  • Jumlah alat dan tenaga kerja yang tersedia saat ini.

Pada artikel ini, kita awali penentuan luas areal tegakan berdasarkan target produksi tahunan dalam satuan ton. Digunakannya satuan ton oleh karena hasil produksi yang dikirim ke user umumnya terukur melalui jembatan timbang (weight bridge). Dalam perhitungan nanti target produksi di simbolkan dengan (T)

Paremeter Perhitungan

  1. Densitas Kayu rata-rata (D): Merupakan perbandingan antara volume dengan bobot kayu, m3/ton. Parameter ini diperoleh melalui kegiatan work study pada produksi tahun-tahun sebelumnya.
  2. Potensi Tegakan (P): Menyatakan volume kayu pada setiap luas areal 1 hektar, m3/ha. Parameter ini diperoleh melalui kegiatan inventory tegakan.
  3. Hari Kerja Tahunan (HKT): Menyatakan jumlah hari kerja efektif dalam setahun.
  4. Persentase Penyusutan Produksi (%Susut): Angka taksiran ini dapat diperoleh dengan menghitung ‘residual wood’ yang tertinggal di infield dan di TPn dan dinyatakan dengan persen terhadap total produksi.

Stock Tersedia Di Awal Tahun

  1. Stok TPn Awal (Vtpn0): Volume kayu dalam m3 yang tersedia di TPn pada awal tahun.
  2. Stok Infield Awal (Vinf0): Volume kayu dalam m3 yang tersedia di infield pada awal tahun.

Rencana Stock Akhir Tahun.

Perencanaan Pemanenan Hutan pada Hutan Tanaman Industri selayaknya turut memperhitungkan stok yang harus di cadangkan pada akhir tahun, disamping target yang harus dipenuhi, untuk menjaga kesinambungan produksi pada tahun berikutnya. Sementara persiapan dan pengurusan legalitas pengusahaan hutan untuk tahun depan dilaksanakan, perlu disisakan cadangan kayu di lapangan. Stok ini sebaiknya dinyatakan dalam jumlah hari untuk menggambarkan berapa hari yang diperlukan untuk menghabiskan stok tersebut.

  1. Stok TPn Akhir (Htpn1): Dinyatakan dalam jumlah hari berdasarkan rata-rata laju pengankutan kayu (delivery) per hari.
  2. Stok infield Akhir (Hinf1): Dinyatakan dalam jumlah hari berdasarkan rata-rata laju produksi kayu di TPn per hari.

Perhitungan Rencana Tahunan Produksi dan Luas Areal Pemanenan

Sebagai contoh, Terget produksi Tahunan (T) = 10,000 ton, Densitas Kayu rata-rata (D) = 0.825 m3/ton, Potensi Tegakan (P) = 110 m3/ha, Hari Kerja Tahunan (HKT) = 300 hari, Persentase Penyusutan Produksi (%Susut) = 5 %, Stock TPn Awal (Vtpn0) = 100 m3, Stock Infield Awal (Vinf0) = 150 m3, Stock TPn Akhir (Htpn1) = 7 hari, dan Stock Infield Akhir (Hinf1) = 14 hari, maka:

  1. Total Pengangkutan (Delivery) = Dlv = T / D = 10,000 / 0.825 = 12,121.21 m3
  2. RencanaStok TPn Akhir Tahun = Vtpn1 = Htpn1 * Dlv / HKT = 7 * 12,121.21 / 300 = 282.83 m3. (Dlv / HKT adalah laju delivery per hari).
  3. Total Produksi di TPn = prodTPn = Dlv * (1 + %Susut/100) + Vtpn1 – Vtpn0 = 12,121.21 * (1 + 5/100) + 282.83 – 100 = 12,910.1 m3. (Kita lebihkan rencana produksi sebesar 5 % mengingat kemungkinan adanya ‘residual wood’.
  4. Rencana Stok Infield Akhir Tahun = Vinf1 = Hinf1 * prodTPn / HKT = 14 * 12,910.1 / 300 = 602.47 m3. (ProdTPn/HKT adalah laju produksi di TPn per hari).
  5. Total Produksi di Infield = ProdInf = ProdTPn + Vinf1 – Vinf0 = 12,910.1 + 602.47 – 100 = 13,362.57 m3.
  6. Penetapan Luas Areal Pemanenan = ProdInf / P = 13,362.57 / 110 = 121.48 ha.

Setelah mendapatkan luas areal pemanenan, maka rencana areal yang akan dipanen secara keseluruhan sudah dapat diplot di peta perencanaan tahunan.

Bersamaan dengan itu, nilai-nilai untuk Perencanaan Produksi Kayu Tahunan selanjutnya dirinci kedalam Perencanaan Produksi Bulanan dan penetapan kebutuhan alat dan tenaga kerja serta biaya operasional setahun dan setiap bulannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *