Pemindahan Kayu Ke TPn

Proses Pemindahan Kayu Ke TPn

Proses Pemindahan Kayu ke TPN dari ‘infield’ dilakukan setelah proses Penumbangan Pohon.  Proses ini dikenal dengan istilah ‘extraction’, atau lebih dikenal dengan penyaradan.

Pada Hutan Tanaman Industri, khususnya yang di peruntukan sebagai bahan baku pulp dan kertas, bentuk kayu yang akan dipindahkan dari infield ke TPn terdiri dari:

  1. Kayu panjang yang masih utuh  (Full Tree Length)
  2. Kayu sortimen yang telah dipotong dengan panjang tertentu (Cut to Length)

Baik pada Sistim Tarik Kayu Panjang (Full Tree Length) maupun Sistim Tarik Kayu Sortimen (Cut to Length), susunan kayu di infield sangat menentukan efisiensi proses ‘extraction’ pada keduanya.

Kemiringan lahan dan tipe lahan (mineral atau gambut) menjadi pembatas utama bagi alat-alat ‘extraction’ yang dijelaskan disini untuk beroperasi.

Sistim Tarik Kayu Panjang (Full Tree Length)

Kayu yang belum dipotong-potong dipindahkan ke TPN dengan cara ditarik/diseret dengan menggunakan alat yang dikenal dengan nama skidder.  Alat skider yang menggunakan roda (tyre) dapat menarik kayu pada kemiringan lahan hingga 30%., sedangkan skidder yang menggunakan track, dapat menarik kayu pada kemiringan lahan hingga 35%.  Rangkaian komponen-komponen produksi pada sistim ini adalah:

Penumbangan dan Prebunching – Penarikan Kayu – Pengupasan  dan  Pemotongan Kayu – Penumpukan di TPn.

Video pada artikel Pemanenan Kayu memperlihatkan rangkaian ini.

Berdasarkan cara skidder melakukan Penatikan Kayu ke TPN, terdapat dua macam skidder:

  1. Skidder yang menggunakan ‘sling’ untuk menarik kayu
  2. Skidder yang menggunakan Grab (capit) untuk menarik kayu.

Skidder yang menggunakan ‘sling’ mempunyai kemampuan melakukan Penarikan Kayu ke TPN, lalu melepaskannya dan bergerak beberapa meter ke depan sambil mengulur sling, menarik kembali kayu, dan demikian seterusnya.  Kemampuan ini membuat skidder dapat digunakan untuk kelas diameter yang besar (diatas 30 cm) dan pada kemiringan lahan yang lebih ekstrim (di atas 35 %).  akan tetapi kayu terlebih dahulu harus ditautkan pada sling, sebelum dapat ditarik.  Hal ini akan memperlambat proses disamping dibutuhkan tenaga tambahan untuk mengikat kayu ke sling.

Skider yang menggunakan capit (grab) mwlakukan Penarikan Kayu ke TPN secara kontinyu hingga mencapai tujuannya di TPn.  Alat ini dapat digunakan pada Hutan Tanaman Industri dengan kelas diameter rata-rata dibawah 30 cm pada tanah mineral dengan kemiringan lahan datar hingga sedang.  Alat ini memberikan keuntungan dapat mencapit beberapa batang kayu secara langsung, relatif lebih cepat dari skiider ‘sling’.

Sistim Tarik Kayu Sortimen (Cut to Length)

Pada sistim ini, kayu telah dikupas dan diptong-potong menjadi sortimen dengan panjang tertentu.  Rangkaian dari proses ini adalah:

Penumbangan dan Prebunching – Pengupasan dan Pemotongan kayu – Pemindahan dan Penumpukan kayu di TPn

Alat Penarik Kayu yang bisa digunakan untuk mengangkut kayu sortimen ke TPn antara lain:

  1. Forwarder
  2. Sleigh + Excavator
  3. Sleigh + Skidder Sling

Forewarder dapat bekerja mengangkut kayu ke TPn pada lahan mineral hingga kemiringan 30 %.   Saat menggunakan forewarder, perlu diperhatikan keterkaitan antara panjang potongan kayu (sortimen) dengan panjang ‘bunk area’  untuk memuat kayu pada forewarder.  Untuk panjang ‘bunk area’ sekitar 5.5 meter, misalnya, panjang potongan kayu (sortimen) yang sesuai adalah 2.5 hingga 3 meter.

Pada lahan gambut atau lahan mineral yang datar dapat digunakan sleigh yang ditarik excavator.   Sifat tanah gambut dapat menunjang luncuran sleigh saat ditarik dengan excavator.   Akan tetapi, pada lahan gambut, excavator dengan bobot yang besar akan mudah terpuruk.  Karena itu perlu dipertimbangkan penggunaan excavator dengan bobot tidak terlalu besar.

Sedangkan pada lahan dengan kemiringan hingga 30%, sementara forewarder tidak tersedia, penggunaan sleigh yang ditarik oleh skidder yang dilengkapi dengan sling dapat dijadikan sebagai alternatif unruk Pemindahan Kayu ke TPN.

Jalur Lintasan Alat Penarik Kayu

Pada dasarnya Pemindahan Kayu ke TPN, merupakan sistim transportasi dari ‘infield’ ke TPn dimana panjang lintasan dan kemiringan lintasan sangat mempengaruhi produktivitas Alat ‘Penarik Kayu yang digunakan.  Karena itu,  penataan  jalur Alat yang optimal sangat dibutuhkan.  Jalur lintasan ke TPn harus dibuat sependek mungkin.

Penataan Satuan Pengelolaan Hutan Terkecil dan posisi TPn untuk membatasi panjang jalur lintasan hingga radius maksimal 400 meter dari TPn, sangat diperlukan untuk membantu optimalisasi daya kerja Alat Penarik Kayu.

Pada area relatif datar, hal ini dapat dicapai dengan membuat jalur lurus langsung ke TPn.  Sedangkan, pada lahan dengan kemiringan yang ekstrim, pembuatan jalur lintasan lurus ke TPn cenderung memotong kontur secara tegak lurus sehingga kemiringan lintasan juga akan mengikuti kemiringan lahan yang ekstrim tersebut.  Pembuatan litasan agar memiliki kemiringan yang tidak ekstrim dapat dicapai dengan mengikuti kecenderungan garis kontur.  Akan tetapi, hal ini akan mengakibatkan jarak lintasan menjadi lebih besar.  Titik temu antara kedua hal yang bertolak belakang ini perlu diperhitungkan, medapatkan jarak lintasan yang relatif lebih pendek tetapi dengan kemiringan lintasan yang masuk dalam kisaran kemampuan alat sehingga dapat dilalui dengan mudah.

Selain itu jarak antar lintasan dibuat dengan mempertimbangkan jangkauan alat yang digunakan untuk menumbang pohon, agar alat tumbang ini dapat mengumpulkan kayu ditepi jalur lintasan  Untuk jangkauan sejauh 7.5 meter,  misalnya, jarak lintasan dapat dibuat dua kalinya, yaitu berjarak 15 meter.

Penataan jalur lintasan juga bermaksud untuk meminimalisir pemampatan tanah (soil compaction) akibat bobot Alat Penarik Kayu yang hilir mudik

Oleh karena pengaruhnya terhadap pemampatan tanah ini juga, maka jarak antar jalur lintasan alat sebesar 15 meter sangat sesuai untuk jarak tanam (spacing) sebesar 3 x 3 meter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *