Pemanenan Kayu

Pemanenan Kayu untuk Bahan Baku Pulp dan Kertas

Pada pembahasan kali ini, Pemanenan Kayu dianggap sebagai bagian dari Pemanenan Hutan yang lebih mengarahkan perhatian kegiatan-kegiatan untuk menghasilkan kayu. Sedangkan Pemanenan Hutan mencakup pengertian yang lebih luas, dimana perizinan, tata batas,  ‘pre-harvest’, keselamatan dan keamanan kerja, penyiapan lahan untuk penanaman berikutnya, dan lain-lain termasuk di dalamnya. Apalah arti sebuah istilah, akan tetapi hal in perlu kami ungkapkan untuk terlebih dahulu menyamakan persepsi kita.

Proses Pemanenan Kayu, pada Hutan Tanaman Industri, merupakan proses produksi dimana kayu tegakan, di ‘infield’,  diproses hingga menjadi tumpukan sortimen kayu dengan panjang tertentu di TPn (Tempat pengumpulan kayu sementara), siap untuk diangkut ke pabrik pengolahan.

Pada Hutan Tanaman Industri di Indonesia, umumnya, hasil dari Proses Pemanenan Kayu dari Hutan Tanaman Industri akan digunakan sebagai pasokan bahan baku pulp dan kertas.

Jenis Stok Kayu

Kita dapat perhatikan pada video diatas, bahwa terdapat 3 jenis stok di dalam sistim Pemanenan Kayu:

  1. Stok Tegakan (Standing Stock) yang merupakan input dari Proses Pemanenan Kayu.
  2. Stok Infield, berupa bundel-bundel tumpukan kayu yang telah ditumbang di ‘infield’.  Stok ini dapat berupa kayu panjang yang masih utuh atau telah dipotong-potong menjadi sortimen dengan panjang tertentu.
  3. Stok TPn,  berupa tumpukan sortimen kayu di TPn, baik  yang telah dikupas maupun masih berkulit, yang telah siap untuk diangkut ke pabrik pengolahan.  Stok TPn merupakan output dari proses Pemanenan Kayu.

Komponen-Komponen Produksi

Beragam sistim  Pemanenan Kayu dapat diterapkan.  Kondisi lahan, jenis tanah (mineral atau gambut), kemiringan lahan, dan potensi kayu sangat mempengaruhi pemilihan jenis alat dan komposisi alat sehingga, pada gilirannya, menentukan sistim Pemanenan Kayu yang akan digunakan.

Akan tetapi, pada umumnya, Proses Pemanenan Kayu akan melalui 6 komponen produksi:

  1. Proses penebangan pohon (felling).
  2. Proses penumpukan kayu di ‘infield’ (prebunching) yang mengumpulkan kayu hasil penebangan pohon ke dalam bundei-bundel tumpukan kecil di ‘infield’
  3. Proses pemindahan kayu ke TPN (landing) dari ‘infield’.  Proses ini dikenal dengan istilah ‘extraction’.
  4. Proses kupas kulit kayu (debarking) yang akan memisahkan kulit dari kayunya.
  5. Proses pemotongan kayu (cross cutting) menjadi sortimen dengan panjang tertentu.  Proses ini dikenal dengan istilah ‘bucking’.
  6. Proses penumpukan (stacking) sortimen kayu di TPn (landing).

Dalam prakteknya, penumpukan kayu di TPn (landing), dilakukan sekaligus bersamaan dengan proses lainnya, yaitu proses kupas kulit (debarking) yang dilakukan di TPn atau proses pemindahan kayu ke TPn (extraction).

Untuk maksud sebagai bahan baku pulp dan kertas, pengupasan kulit kayu memiliki arti sangat penting bagi kualitas kayu yang diproduksi.

Komponen-komponen produksi tersusun dalam suatu rangkaian di didalam sistim Pemanenan Kayu secara keseluruhan.  Hasil dari komponen produksi sebelumnya menjadi pasokan bagi komponen berikutnya. Sehingga, peranan suatu komponen produksi dalam menunjang komponen produksi berikutnya sangat menentukan efisiensi sistim Pemanenan Kayu yang diterapkan.

Produktivitas setiap alat yang digunakan pada setiap komponen produksi menentukan jumlah alat dan komposisi alat sehingga dapat menjamin keseimbangan alur produksi dan mencegah terjadinya ‘bottle neck’ pada salah satu komponen produksi.

Sistim Pemanenan Kayu

Berdasarkan cara pemindahan kayu dari ‘infield’ ke TPn (landing), terdapat 2 sistim harvesting:

  1. Sistim Tarik Panjang (Full Tree Length, FTL) dimana kayu dengan panjang masih utuh ditarik dari infield ke TPn, yang biasanya, menggunakan alat bernama skiddder.
  2. Sistim Tarik Sortimen (Cut to Length, CTL) dimana kayu yang sudah dipotong dalam bentuk potongan-potongan dengan panjang tertentu (sortimen) ditarik dari infield ke TPn, yang biasanya,  menggunakan alat bernama forwarder atau sleigh.

Pada Sistim Tarik Panjang (Full Tree Length), kayu dikupas dan dipotong setelah kayu ditari dan telah berada di TPn .  Proses ini meberikan keuntungan bagi alat kupas kulit (debarker),  oleh karena dapat meminimalisir perpindahan atau pergerakan alat.  akan tetapi cara ini membutuhkan ruang TPn yang cukup luas.  Video di atas menggambarkan proses ini.

Pada Sitim Tarik Sortimen (Cut to Length) kayu telah dikupas dan dipotong ke sortimen dengan panjang tertentu di ‘infield’ sebelum sortimen tersebut di pindahkan dan ditumpuk di TPn (landing).  Jika menggunakan alat harvester untuk menumbang kayu, proses kupas kulit dan pemotongan kayu dengan panjang tertentu dapat dilakukan sekaligus di ‘infield’.  Jika tidak, maka alat kupas kulit lainnya, debarker, harus menyongsong kayu ke infield untuk dikupas.  Ini dapat saja diterapkan pada kondisi kemiringan lahan yang tidak terlalu ekstrim.

Hasil dari Sistim Pemanenan Hutan

Sebagai suatu sistim yang mencakupi sistim Pemanenan Kayu, hasil dari Sistim Pemanenan Hutan bukan saja kayu yang siap untuk diangkut ke pabrik pengolahan, tetapi juga lahan yang harus berada dalam kondisi siap tanam, memiliki titik tanam dan memiliki tingkat kepadatan tanah yang rendah untuk memudahkan proses penanaman.

One thought on “Pemanenan Kayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *