Insiden Penumbangan Manual | Bahaya Pohon Sandar

Bahaya Pohon Sandar Pada Pohon Lapuk

Hanya karena memiliki pohon-pohon yang homogen dan jarak tanam yang seragam, bukan berarti Keamanan dan Keselamatan Kerja para penumbang pohon yang hanya menggunakan chainsaw pada Hutan Tanaman Industri, dapat terjamin. Berbagai Insiden Penumbangan Manual tercatat terjadi setiap tahun, setidaknya pada suatu perusahaan Hutan Tanaman Industri. tempat dimana saya bekerja. Seperti sudah menjadi kepastian, tinggal menunggu waktu dan tempat terjadinya saja. Berbagai hal dapat menjadi penyebab terjadinya Kecelakaan Kerja pada para penumbang manual ini. Akan tetapi secara umum penyebab Insiden Penumbangan Manual yang terangkum selalu bersumber pada satu hal, yaitu ketidak pedulian para pekerja atas Keamanan dan Keselamatan Kerja mereka sendiri.

Memang sangat aneh sebab bagaimana mungkin seorang pekerja tidak ingin memperhatikan dan mengikuti hal yang terkait dengan keselamatan mereka sendiri. Tetapi, bagi anda yang pernah bekerja atau sedang bekerja pada suatu perusahaan Hutan Tanaman Industri, anda pasti telah memahami situasi semacam ini. Agaknya, seorang ahli Kehutanan yang sekaligus sangat memahami sosiologi dan psikologi dibutuhkan untuk masalah ini, sehingga dapat melakukan pendekatan-pendekatan kultural dan psikologis secara personal kepada setiap pekerja penumbangan manual. Perusahaan, tempat dimana saya bekerja saat ini, bukannya tidak memperhatikan masalah Keamanan dan Keselamatan Kerja ini. Berbagai usaha telah dilakukan mulai dari memfasilitasi keperluan dan perlengkapan ‘safety’, pelatihan, hingga sosialisasi. Sebelum memulai bekerja, bahkan para pekerja sudah diwajibkan memeriksa kesehatan melalui ‘Medical Check-up’ (MCU) dan penyuntikan pengethuan tentang cara-cara bekerja secara aman di lingkup perusahaan melalui program ‘safety induction’. Termasuk video animasi yang kami sajikan di atas yang merupakan salah satu usaha dalam menggencarkan sosialisi terkait Keamanan dan Keselamat Kerja demi untuk menyadarkan tentang harga yang harus dibayar dari suatu kelalaian.

Ada beberapa alasan perusahaan mau memperdulikan dan memperhatikan masalah Keamanan dan Keselamat Kerja, yang antara lain adalah:

  • Perusahan mendapatkan audit terkait dengan masalah ‘safety’ setiap tahun, yang sangat mempengaruhi performa perusahaan untuk memasarkan hasil produknya.
  • Kecelakaan Kerja, terutama yang berakibat ‘fatality maupun ‘Lost Time Injury’, menyebabkan adanya tambahan pengeluaran biaya dan energi bagi perusahaan.
  • Terjadinya ‘Kecelakaan Kerja’ menyebabkan proses prosuksi menjadi terhambat.

Dengan demikian, Kecelakaan Keja tidak saja menimbulkan kerugian bagi perkerja dan keluarga yang mengalaminya tetapi juka akan merugikan perusahaan, tidak terkecuali Kecelakaan Keja pada kegiatan penebangan yang merupakan salah satu mata rantai dari proses produksi kayu.

Video animasi yang kami sajikan di atas merupakan rekaan dari suatu kejadian nyata berdasarkan hasil investigasi bagian ‘Occupational Health and Safety’ (OHS). Pada sajian yang kami beri judul ‘Bahaya Pohon Sandar pada Kayu Lapuk’ tersebut, menggambarkan kajian adanya Kondisi Bahaya dan Tindakan Bahaya yang mengakibatkan Insiden Penumbangan Manual. Kondisi Bahaya yang terjadi adalah adanya pohon sandar pada pohon yang telah lapuk.

Sedangkan Tindakan Bahaya yang dilakukan korban adalah:

  1. Korban tidak melakukan ‘pre-assesment’, yaitu melakukan penilaian areal sehingga tidak memperhitungkan bahaya yang dapat ditimbukan oleh pohon sandar yang berada di sekitarnya. Ini merupakan salah satu poin utama yang harus dilaksanakan pada kegiatan operasional penebangan pohon secara aman dan selamat.
  2. Korban tidak membuat jalur penyelamatan sehigga tidak sempat menyelamatkan diri pada saat cabang pohon lapuk patah dan jatuh ke arah korban. Poin utama lainnya yang tidak boleh di abaikan.
  3. Korban tidak membuat takik rebah dan takik balas saat melakukan penebangan dengan chainsaw yang sudah menjadi acuan baku prosedural di perusahaan, sehingga korban tidak dapat memperkirakan arah rebah pohon.

Lalu, apakah korban tidak mengetahui tentang hal tersebut. Sebelumnya, kami perlu mengungkapkan 3 kata kunci untuk menghindari Kecelakaan Kerja, yaitu tahu, mampu, dan mau. Hasil penyelidikan dari tim OHS menunjukkan bahwa sosialisasi gencar dilakukan dan sampai pada korban. Korban juga tercatat telah menjalani pelatihan yang dilakukan oleh tim pelatihan chaisaw perusahaan dan telah mendapatkan ‘Kartu Izin Operasi Alat’ dari perusahaan. Maka dua kata kunci yang pertama, tahu dan mampu, sebenarnya telah dimiliki oleh korban. Lalu bagaimana dengan kata kunci ketiga, mau. Ini menyangkut ego personal dan situasi saat bekerja. Faktor kelelahan dan nafsu untuk mengejar produksi karena di upah secara borongan dapat memaksa pekerja untuk mengabaikan hal, yang sebelum kecelakaan terjadi, terlihat sangat sepele. Lain halnya jika sebelumnya telah disadari bahwa hal yang kecil inilah yang justru dapat memupuskan sama sekali semua impian dan harapan dari seorang anak manusia, hanya dalam hitungan detik. Terlalu mahal harga yang harus dibayar dari suatu kelalaian.

Kami sependapat bahwa safety tidak seharusnya belajar dari suatu Kecelakaan Kerja, akan tetapi kajian tentang masalah ini tetap saja dibutuhkan untuk menghindari Kecelakaan Kerja yang serupa pada masa-masa selanjutnya.